BUS pun siap berangkat, usianya sudah puluhan tahun itu, mulai membunyikan klaksonnya. Itu pertanda perjalanan panjang akan dimulai: Jakarta-pekalongan. Mustofa , yang duduk di sebelahku tak henti-hentinya memuji carier jabatannya. Kami duduk dengan posisi bangku penumpang untuk 2 orang. Aku dipojok dekat kaca bus itu, dan Mustofa berada di sampingku .
Mustofa baru saja naik pangkat. Ia tak sabar memamerkan pangkatnya itu pada kedua orang tuanya, juga orang-orang kampung. Karena itu, seragam birokrat itupun tak pernah dilepasnya.
Hati Mustofa berseru-seru, “Hei, kalian, inilah si mustofa , si anak desa yang cerdas dan pekerja keras itu. Akulah si pemuda yg sukses dijakarta yang kata orang, hidup disana tuh KERAS.kalo buatku biasa saja, Karena aku tak malas seperti kalian, tak mudah menyerah, maka aku menang.”
Sampai di jati bening, beberapa penumpang baru mulai naik sehingga bus itu mulai sedikit penuh . Tiba-tiba duduk di depan bangku saya seorang gadis berkulit putih, halus, dan berparas cantik. Bibirnya tersenyum seakan meruntuhkan iman. Mustofa tak bisa mengalihkan pandangannya pada gadis ini.
Dan laki-laki birokrat itu, dengan pangkat dipundaknya, tak kuasa menahan tangannya yang sudah gatal untuk berkenalan. Dia memberanikan diri untuk duduk berdua dengan gadis itu , sedangkan aku duduk seorang diri. Dengan memperhatikan tingkah laku kawanku.
Co: “Perkenalkan, nama saya mustofa, sering dipanggil Timbul” Tiba-tiba Mustofa memodifikasi namanya.
Ce : “Marsya Dresanalla” perempuan itu menyambut tangan Mustofa alias Timbul, tapi kelihatan agak lemas.
Co : “Mau ke pekalongan juga?”
Ce :“Iya, ada urusan di sana.”
Co : “Urusan apa? Kalau boleh tahu.”
Ce : “Urusan yang sangat penting: urusan Rakyat.”
Marsya merogoh kantongnya dan dikeluarkannya cokelat . Lalu ditawarkan ke Mustofa, dia langsung menerima tawaran itu.
Ce : “Anda seorang birokrat?”
Co :“Iya, saya bekerja di Kementerian Pariwisata. Sudah tiga tahun saya bekerja di sana. Kemarin, berkat kerja keras dan karunia Tuhan, saya naik jabatan. Ya, saya menganggap ini anugerah Tuhan.”
Ce : “ Anda sangat beruntung,” Marsya memuji dengan suara lemas.
Perbincangan berhenti. Marsya mulai bermain dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukannya. Kelihatannya, ia agak menyesal duduk di samping manusia yang begitu bangga memikul pangkatnya itu.
Dan Mustofa pura-pura beralih melihat keluar jendela. Sawah, ladang, bukit, serta perkampungan seakan lari berkejar-kejaran. Dalam hatinya berkecamuk perasaan yang tak bisa diredam lebih lama lagi: cinta. Ya, ia mulai terpikat dengan Marsya, gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.
Mustofa yakin, seragam yang dikenakannya, juga pangkat yang menempel di pundaknya, akan menaklukkan perasaan gadis itu. Kalau belum takluk juga, katanya di dalam hati, keluarkanlah Blackberry dari saku celanamu.
Tetapi Marsya tetap mengabaikannya. Malahan gadis itu sekarang mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lalu dibukanya buku itu , Ia seakan tenggelam dalam bacaan buku itu.
Mustofa, yang makin gelisah tak mendapat respon, mulai memberanikan diri.
Co : “Anda punya cita-cita mencari suami seorang pejabat?”
Ce: “Anda tahu, bung, pada abad ke-19 orang-orang di Eropa sana sudah menaklukkan petir agar sejalan dengan keinginan manusia. Lahirlah Bus , seperti yang kita tumpangi sekarang ini. Dan di Jakarta ini, kota terbesar di Republik ini, masih ada orang yang merasa dirinya hebat hanya karena seragam. Huhh, aku seperti hidup di jaman kolonial.”
Jawaban Marsya itu seperti petir yang menyambar kuping Mustofa. Tak disangkanya, ada perempuan yang tak takluk oleh seragam. Betapa malunya hati ini, pikirnya, seorang perempuan telah menampik kebanggaan hidupnya.
Mustofa memang bercita-cita jadi birokrat. Sejak dulu, ia melihat garis kehidupan itu seperti garis lurus: lahir, besar, sukses, menikah, kaya raya. Baginya, birokrat adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Ia sangat berharap, dengan suksesnya itu, orang tuanya menjadi bangga.
Kalo menurut gue sih lebih baik hidup apa adanya (sederhana), menjadi diri sendiri dan tetap bersyukur kepada sang pencipta. Orang tua pasti akan terima kita apa adanya. Mau gimanapun kita , sukses atau tidak sukses. Mereka pasti terima kita , karna bagaimanapun kau tetap darah dagingku , mereka hanya ingin kasih sayang dari seorang anak ketika ia sudah menjadi seorang yang lebih dewasa .
Kalo analogi gue : Kita harus tahu siapa orang itu, yang berbicara dari mulutnya sendiri tentang kesuksesannya. Tapi orang lain tidak boleh tau siapa kita . Biarkan saja nanti mereka sendiri akan mengetahui siapa kita. Ria itu dilarang , menjadi pendengar yg bijaksana saja wkwkwkwk
Co: “Anda sendiri kerja di mana?” tanya Mustofa penasaran.
Ce : “Apa pentingnya pertanyaan itu kujawab. Tapi, kalau kau tetap mau tahu, saya bekerja sebagai manusia bebas.”
Co : “Hah, adakah pekerjaan seperti itu?” mustofa bertanya-tanya dengan sosok wanita itu.
Ce: “Ya, saya penulis lepas. Sesekali, kalau ada kebijakan pemerintah yang tidak pro dengan rakyat , saya menjelma menjadi aktivis. Bagiku, manusia yang merdeka100% itu adalah manusia paling ideal. Manusia-manusia yang merdeka100% dinegaranya sendiri, dengan senjata kritisisme di tangannya, adalah penyuluh pembebasan.”
Co : “Hehehe, rupanya demonstran toh,” balas Mustofa seakan mengejek.
Tak puas mengejek, Mustofa pun mulai melancarkan serangan tambahan, “Tapi kan aparatur negara itu juga pengabdian terhadap masyarakat. Kami bekerja untuk melayani rakyat. Tanpa tangan-tangan kami, negara ini mungkin sudah lumpuh. Bahkan, berbeda dengan kalian yang hanya pandai mengumbar kritik, kami bekerja dengan giat & tekun.”
Ce : “Ya, menjadi apparatur negara memang sebuah pengabdian. Saya sangat menaruh hormat kepada mereka yang benar-benar berdedikasi terhadap bangsa dan rakyat. Tapi, ingatlah, tak sedikit juga diantara mereka yang mengejar seragam apparatur negara karena motif gaji dan status sosial di sekitar lingkungannya. Mereka menghalalkan korupsi, kolusi dan nepotisme demi motif itu. Apa itu yang di sebut pengabdian masyarakat ? kalo uang rakyat saja selalu birokrat grogoti untuk kepentingannya”
Co : “Apa yang salah dengan mencari gaji? Toh, tak ada manusia yang tak bisa hidup tanpa gaji. Jangan dikira kami bisa hidup, juga keluarga kami, kalau tak ada gaji. Tapi, harus anda ingat, gaji bukanlah motif paling pokok. Kami memang ingin mengabdi.”
Ce : “Hei, tahukah kau bung, 70-an persen anggaran APBN itu hanya belanja rutin. Itu sebagaian besar untuk membiayai apparatur, ya, termasuk kau itu. Sedangkan belanja modal, yang menyangkut pembangunan, hanya 12-an persen. Kalau dasarnya kalian adalah pengabdian, maka tak perlu kinerja kalian menyedot sebegitu besar uang negara yg seharusnya untuk rakyat. Bukankah ajaran moril para pendiri bangsa mengatakan, kalau rakyat kenyang, biarlah para abdi negara kenyang belakangan. Kalau rakyat lapar, maka biarkanlah para abdi negara lapar duluan.”
Mustofa benar-benar terpojok. Ia sama sekali tak punya jurus untuk menangkis penjelasan Marsya. Di benaknya muncul gugatan: “Hei, Mustofa, jangan kau bangga dengan seragammu itu, apalagi pangkatmu itu, tidakkah kau ingat bahwa kebanyakan koruptor di negeri ini adalah orang-orang berseragam dan berpangkat.”
Marsya terus berceramah. Ia bilang, banyak orang berseragam hidup bak menara gading, terpisah & menyimpang jauh dengan rakyatnya. Anehnya, dia menambahi, mereka merasa status-sosialnya jauh di atas rakyat kebanyakan. Alih-alih menjadi abdi negara, terhadap rakyat saja mereka sengaja membuat jarak. Perbedaan kelas yang seharusnya tidak ada karena dalam ideologi negara yaitu Pancasila, sila ke-5 "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia" sudah mencerminkan yang seharusnya bahwa tidak ada perbeadaan antara warga negara indonesia semua mempunyai hak berkehidupan yang adil , sejahterah dan dilindungi oleh negaranya. Nyatanya ?
Ia juga bercerita, priyayi-priyayi di masa lalu begitu bangga menjadi ambtenar-ambtenar ( birokrat) di administrasi kolonial. Pramoedya Ananat Toer menggambarkan watak mereka: beku, rakus, gila hormat, dan korup.
Badan Mustofa makin lemas. Bukannya berhasil menaklukkan hati sang gadis di depannya, malahan kepercayaan dirinya yang diruntuhkan. Ia seakan kembali ke masa silam: masa ia membangun cita-citanya. Dia akhirnya memejamkan mata dan berdoa semoga 1 jam lagi sampai ketujuan ..
Siapa yg ingin menjadi Birokrat?
Terbentuknya Negara adalah Karena ada suatu wilayah, rakyat, dan pengakuan dari negara -negara lain. Kebijakan Pemerintah harus lebih pro dengan rakyat, bukanlah pro terhadap pendatang . ketika semua kepentingan memanfaatkan nama rakyat alih-alih menjadikan kepentingan itu untuk isi kantongnya sendiri dan yang menjadi korban selalu Rakyat. gue memnyatakan bangsa ini belum Merdeka walaupun sudah ada pengakuan dari negara lain, tetapi tidak butuh itu saja . MERDEKA harus 100%, pemerintah harus mementingkan sepenuhnya hak rakyat tentang kesejahteraan dan keadilan yang merata terhadap rakyat . Karena uang rakyat seharusnya dari rakyat untuk rakyat, kalo politiknya seperti ini gimana mau maju. Wong kekuasaan dijadikan alat produksinya 😁😁😁😁😁
Jangan lemah dan tunduk didepan birokrat, nanti di injek-injek harga dirimu. Ketika benar dan tidak melanggar aturan lawan 😎
Bekasi, jumat 9 febuari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar